Dearabisasi Pada Masa Dinasti Abbasiyyah

Daulah Abbasiyyah adalah imperium Islam kedua setelah daulah bani Umayyah, sebagai sebuah kekhalifahan yang mampu memerintah dan mempertahankan kekuasaan selama kurang-lebih 5 (lima) abad, daulah Abbasiyyah mampu menyebar luaskan ajaran-ajaran Islam dan pengaruhnya kepada seluruh dunia serta menjadi Negara terkuat dan terluas wilayahnya ketika itu.

Banyak hal yang dapat kita kaji dan kita ambil ibrah atau hikmah dari sejarah dinasti Abbasiyyah ini, sebagai sebuah dinasti yang disebut-sebut oleh kalangan ilmuan sebagai golden age (masa keemasan) kebudayaan dan peradaban Islam banyak hal yang diwarisi oleh peradaban dinasti Abbasiyyah ini, baik yang meliputi bidang ilmu pengetahuan, militer, ekonomi, arsitektur dan lain-lain.

Salah satu hasil dari kebudayaan dan peradaban Islam masa ini adalah beberapa hasil karya dalam kajian keilmuan filsafat Islam, penerjemahan-penerjemahan ilmu pengetahuan dari Yunani dan Romawi, penataan administrasi ketata-negaraan yang lebih baik daripada dinasti Muawiyah, dibuatnya mata uang yang berbahasa arab dan lain-lain.

Kekuasaan dan kemajuan peradaban dimasa daulah Abbasiyyah ini tidaklah dicapai secara instan, tapi melalui perjuangan dan jerih payah serta pengorbanan yang ditinggi, oleh karena itu penting sekali membahas sejarah berdirinya daulah Abbasiyyah ini.

Adapun makalah ini akan membahas atau mengkaji tentang sejarah singkat dinasti Abbasiyyah dan penulisan karya tulis ini akan difokuskan kajiannya pada pembahasan dearabisasi pada masa bani Abbasiyyah ini.

A. Sejarah singkat dinasti Abbasiyyah

Dinasti Abbasiyyah berdiri setelah berhasil menggulingkan dinasti Umayyah kira-kira pada tahun 749-750 Masehi. Banyak hal yang melatar belakangi tumbangnya dinasti Umayyah ini, berikut penulis kutipkan beberapa pendapat ilmuan mengenai latar belakang runtuhnya dinasti Muawiyah ini, sebagai berikut:

Pendapat pertama penulis rangkum dari pendapatnya Philip K. Hitti dalam bukunya yang berjudul History of the Arabs, sebagai berikut[1]:

  1. Kebobrokan akhlak penguasa/khalifah, mereka lebih senang berfoya-foya ketimbang mengurusi pemerintahan.
  2. Terlalu menekankan semangat individualism dan atau semangat kesukuan (ashabiyah).
  3. Konflik antar suku dan antar anggota keluarga
  4. Munculnya kelompok-kelompok pemberontak yang disebabkan oleh kesalahan para penguasa seperti kelompok Ali (Syiah), Khawarij dan lain-lain.
  5. Pemer
  6. intahan dinasti Muawiyah termasuk Arab-Sentris yang memunculkan kekecewaan dari kalangan/kelompok-kelompok yang merasa dianak tirikan/mawali (berasal dari kata mawla yang berarti budak).
  7. Terbentuknya koalisi antara kekuatan Syiah, Khrasan dan Abbasiyyah.

Sedangkan dalam eksiklopedi sejarah Islam diterangkangkan bahwa sebab keruntuhan dinasti Umayyah adalah[2]:

  1. Pengangkatan lebih dari satu putra mahkota
  2. Timbulnya fanatisme kesukuan
  3. Kehidupan para khalifah yang melampui batas
  4. Fanatisme kearaban bani Umayyah
  5. Kebencian golongan syiah

Dari beberapa pendapat diatas, tentulah dapat kita kaji bahwa keruntuhan dinasti Umayyah disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan oleh mereka sendiri (bersifat internal), seperti ke-tidak kompeten-nan penguasa atau khalifah, kesalahan dalam mengambil kebijakan yang terlalu arab-sentris dan lain-lain, sedangkan terdapat pula yang berasal dari luar (bersifat eksternal) seperti pergolakan atau pemberontakan dari pihak luar dan lain-lain.

Namun, hal menarik lain yang perlu dikaji adalah keberhasilan dinasti Abbasiyyah menggulingkan dinasti Umayyah, berikut adalah dasar-dasar didirikannya dinasti Abbasiyyah[3]:

  1. Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan
  2. Dasar universal yang tidak berlandaskan kesukuan
  3. Dasar politik dan administrasi secara umum tidak diangkat berdasarkan kesukuan
  4. Dasar persamaan hukum bagi setiap masyarakat
  5. Pemerintah bersifat muslim dan bangsa arab dipandang sebagai salah satu ras saja
  6. Hak memerintah sebagai ahli waris Nabi Muhammad SAW.

Setelah berhasil menggulingkan bani Umayyah, daulah Abbasiyyah mampu bertahan dan memimpin kekhalifahan Islam selama kurang lebih 5 (lima) abad.

Berikut adalah nama-nama para khalifah yang penulis susun menurut para penguasa dari segi keluarga[4]:

A)  BANI ABBAS (750-932 M)

1)  Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)

2)  Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M)[5]

3)  Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)

4)  Khalifah Al-Hadi (785-786 M)

5)  Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)[6]

6)  Khalifah Al-Amin (809-813 M)

7)  Khalifah Al-Makmun (813-833 M)[7]

8)  Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)

9)  Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)

10)  Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M)

11) Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)

12)  Khalifah Al-Mustain (862-866 M)

13)  Khalifah Al-Muktazz (866-869 M)

14)  Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)

15)  Khalifah Al-Muktamid (870-892 M)

16)  Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)

17)  Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)

18)  Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)

B)  BANI BUWAIHI (932-1075 M)

1)  Khalifah Al-Kahir (932-934 M)

2)  Khalifah Ar-Radi (934-940 M)

3)  Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M)

4)  Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)

5)  Khalifah Al-Mufi (946-974 M)

6)  Khalifah At-Tai (974-991 M)

7)  Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)

8)  Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)

C)  BANI SALJUK (1075-1258 M)

1)  Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)

2)  Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)

3)  Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M)

4)  Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)

5)  Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)

6)  Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M)

7)  Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M)

8)  Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)

9)  Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)

10)  Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)

11)  Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)

B.  Arti dan makna dearabisasi

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa arti kata de, sebagai berikut[8]:

de- [2] /de/ bentuk terikat menghilangkan; mengurangi: degresi; dehidrasi

sedangkan kata arab diartikan[9]:

Arab n 1 nama bangsa di Jazirah Arab dan Timur Tengah; 2 bahasa Semit yg digunakan bangsa Arab (Saudi Arabia, Suriah, Yordania, Irak, Mesir, dsb);

meng-a-rab-kan v 1 mengalihbahasakan (menerjemahkan) ke dl bahasa Arab; 2 menjadikan warga negara Arab;

ke-a-rab-a-rab-an a bersikap dan bertingkah laku spt orang Arab

adapun kata sasi diartikan sebagai berikut:

-isasi (-asi) sufiks pembentuk nomina proses, cara, perbuatan: aktualisasi; legalisasi; lokalisasi

Dalam kamus webster's dijelaskan bahwa kata arab mempunyai arti:

Ar-ab/ar-ab/ n (ME, fr. L arabus, Arabs, fr. GK Arab- Araps, fr. Ar peninsula b : a member of the Semitic- speaking people 2 : ARABIAN HORSE Arab adj[10]

Dari sub-sub kata diatas, jika dijadikan satu maka akan menjadi kata dearabisasi yang mempunyai arti suatu proses mengurangi atau menghilangkan kearaban.

Menurut penulis istilah dearabisasi  ini muncul setelah terdapat istilah arabisasi pada pada daulah Umayyah , sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dearabisasi adalah kontradiksi dari istilah arabisasi pada masa Umayyah .

Arabisasi pada masa Umayyah meliputi beberapa hal berikut:

  1. Administrasi Negara menggunakan bahasa Arab dan semua daerah Islam harus menggunakan bahasa Arab[11].
  2. Seluruh pejabat terdiri dari orang-orang keturunan bangsa Arab.
  3. Peraturan-peraturan yang berbahasa Romawi dan Persia disalin kebahasa Arab[12].
  4. Terbentuknya golongan mawali
  5. Homogenitas masyarakat pada masa Umayyah, sehingga putra bangsa arab yang lahir diluar daerah arab diberikan akte kelahiran.

Adapun beberapa faktor yang menimbulkan dearabisasi pada masa dinasti Abbasiyyah adalah:

  1. Pembentukan daulah Abbasiyyah didukung oleh orang-orang selain arab seperti orang mawali, Khurasan, Persia dan lain-lain.
  2. Luasnya daerah daulah Abbasiyyah yang sudah lintas bangsa Arab
  3. Dinasti Abbasiyyah dalam pemerintahannya bercorak plularisme, para pejabat pemerintah terdiri dari golongan-golongan non-arab.

Selain beberapa faktor diatas, tentunya masih terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan dearabisasi pada masa dinasti Abbasiyyah, sehingga perlu adanya kajian yang mendalam dan lebih sempurna mengenai faktor-faktor tersebut.

Menurut kajian penulis, beberapa bidang yang mengalami dearabisasi pada masa dinasiti Abbasiyyah adalah, sebagai berikut:

  1. Pejabat-pejabat negara tidak hanya terdiri dari orang-orang Arab, melainkan lintas bangsa, baik yang berkebangsaan Persia, Turki manupun yang campuran.
  2. Pluralisme masyarakat terbentuk pada masa ini, sehingga tidak ada perbedaan ras.
  3. Penerjemahan-penerjemahan buku-buku dari bahasa latin kepada bahasa Arab, sehingga sedikit banyak berpengaruh kepada dearabisasi ilmu pengetahuan yang tidak hanya bersumber dari al-Qur'an dah hadits.

Kesimpulan

Daulah Abbasiyyah berdiri karena pergolakan politik dan kerusakan atau kemunduran dinasti Umayyah, sedidaknya terdapat dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi, kebobrokan akhlakul karimah para khalifah dinasti Umayyah, terjadi konflik keluarga dalam memperebutkan kekuasaan dan lain-lain. Faktor eksternal meliputi, terbentuknya kekuatan para pemberontak dan bersatunya golongan-golongan yang merasa dianak tirikan oleh pihak pemerintah yakni dinasti Umayyah, ketidak puasan golongan mawali, Syi'ah Khawarij dan lain-lain terhadap kebijakan pemerintah, serta terjadinya pemberontakan-pemberontakan didaerah, dan beberapa faktor lain.

Islam mencapai puncak kejayaan pada masa bani Abbasiyyah, daulah ini terdiri dari 37 khalifah yang memerintah kurang lebih 5 abad. Banyak hal yang terjadi selam 500 tahun kepemimpinan Islam dalam kancah dunia internasional ini, pengembangan dunia pendidikan, pengembangan dunia militer dan pertahanan, perluasan dan penyebaran dakwah islamiyyah, dan lain-lain.

Terjadinya dearabisasi pada masa dinasti Abbasiyyah yang meliputi beberapa bidang diantaranya

  1. bidang politik, banyak para pejabat yang tidak hanya berasal dari bangsa arab tapi juga non arab, seperti Sahl bin Isa dari Persia dan lain-lain
  2. pendidikan, pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa arab saja
  3. sosial dan budaya, masyarakat sudah pluralism
  4. keamanan dan pertahanan, para serdadu perang sudah lintas eksnis baik suku arab, persia, turki maupun afrika.

Terakhir, Luasnya daerah kekuasaan dinasti Abbasiyyah ini menimbulkan banyak problem dan catatan sejarah yang sangat penting untuk dikaji lebih lanjut.

Referensi

Abdullah, Prof. Dr. Taufik, dkk. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005.

Armando, Ade dkk. Ensiklopedi islam untuk pelajar. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005.

Hitti, Philip K. History of the arabs; from the earliest times to the present. Ter: R. cecep lukman yasin dan dedi slamet riyadi. Jakarta: PT. serambi ilmu semesta. 2005

Hitti, Philip K. The Arabs: a short History. Washington, DC USA:  Regnery gateway. 1993

Hourani, albert habib. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991.

Hourani, Albert. Sejarah bangsa-bangsa muslim. Bandung: mizan. 2004.

Ira M, Lapidus. A History of Islamic societies, New York USA: Cambridge University Press. 1990

Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, edisi ke-10 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Maryam, siti dkk. Sejarah peradaban islam dari masa klasik hingga modern. Yogyakarta:Fac adab. 2002

Nur Hakim, Moh. Islam sejarah dan Peradaban, Malang: Universitas Muhammadiah Malang. 2004

Sou'yb, Joesoef. Sejarah Daulat Abbasiah. Bulan Bintang. Tanpa tahun.

Syalabi, A, Prof, Dr. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta: Pustaka al-Husna.

Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafido Persada. 2004.

Webster, A Merriam-. Webster's ninth new collegiate dictionary. United States of America.

Yusuf, al-Isy, Dr. Tarikh 'Ash Al-Khilafah al-'Abbasiyyah. Darul Fikr Damaskus. Tanpa tahun.



[1] Philip K. Hitti. History of the arabs; from the earliest times to the present. Ter: R. cecep lukman yasin dan dedi slamet riyadi. Jakarta: PT. serambi ilmu semesta.2005

[2] Prof. Dr. Taufik Abdullah, dkk. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005. Hal: 74

[3] Ajid Thohir. Perkembangan Peradaban di Kawasan dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafido Persada. 2004. Hal: 44

[4] Ade Armando dkk. Ensiklopedi islam untuk pelajar. Jakarta: PT Ichtiar baru van hoeve. 2005. Hal: 3

[5] albert habib Hourani. A history of the arab peoples/albert hourani. USA: 1991, hal: 33

[6] Ibid

[7] Op. Cid. hal: 36

[8] KBBI hal: 242

[9] Op. Cid, hal:62

[10] A Merriam-Webster. Webster's ninth new collegiate dictionary. United States of America. Hal: 99

[11] Badri yatim: 89

[12] Ibid