Ibadah dan Kerja Sejak Muda

By admin 12 Nov 2018, 00:00:00 WIB Artikel Dosen
Ibadah dan Kerja Sejak Muda
Di dalam mengembangkan hubungan kita dengan Allah SWT, tidak cukup hanya membahas tauhid. Karena yang kita bahas adalah Dzat yang bukan makhluk, maka tidak ada metode yang pas untuk membahas-Nya, kecuali melalui keimanan atau al-samiyyat (sesuatu yang kita dengar dari wahyu, lalu kita mempercayainya). 
 
Di dalam mengembangkan iman, harus dengan jalan beribadah. Jadi, kita jangan hanya getol mendiskusikan teologi (tauhid) dengan akal dan argumentasi saja. Mengapa?, karena yang kita bicarakan adalah Allah SWT yang tidak mempunyai sifat kemakhlukan, sehingga tidak bisa dipahami dengan akal. Oleh sebab itu, keimanan harus kita suburkan dengan ibadah. Ibadah itu ada dua macam, yaitu Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ammah
Mahdhah dalam Bahasa Jawa berarti nyel (murni). Ibadah Mahdhah adalah ibadah yang tidak bisa dirasionalisasikan (ghairu maqul al-mana). Isi dan bentuk Ibadah Mahdhah telah ditentukan Allah SWT dan Rasulullah SAW, sehingga tidak boleh diowahi (diubah-ubah), karena format dan esensinya berasal dari Allah SWT. Misalnya: Shalat. Mengapa di dalam shalat kok harus berdiri, rukuk, sujud, dan sebagainya; kok nggak diganti lari pagi saja? Jadi, shalat itu tidak bisa dipertanyakan dan diubah-ubah. 
 
Ibadah Ammah adalah ibadah yang maknanya untuk pengabdian kepada Allah SWT, tapi cara dan bentuknya bebas, tidak ditentukan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jadi, Ibadah Ammah ini bebas bentuknya, tapi esensinya adalah hubungan manusia dengan Allah SWT. Contoh: membaca al-Quran, Wirid, Zikir, Istighatsah, dan lain-lain. 
 
Ibadah inilah yang bisa mengembangkan iman. Kalau orang shalatnya sudah rajin, dengan sendirinya, keyakinan kepada Allah SWT semakin naik. Orang yang zikirnya sudah bagus, dengan sendirinya, keimanan kepada Allah SWT menjadi lebih tebal. 
 
Yang dimaksud zikir (ingat kepada Allah SWT) bukan mengingat Dzat Allah SWT, karena Dzat Allah SWT tidak bisa dibayangkan. Jadi, ketika berzikir Subhanallah (Maha Suci Allah), yang kita ingat bukanlah Dzat Allah SWT, melainkan tanda-tanda alam dan makhluk yang menunjukkan kesucian Allah SWT. Jika berzikir Laa Haula wa Laa Quwwata illa bi Allah (Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah SWT), yang kita bayangkan adalah kekuatan kita tidak akan ada, kecuali kalau diberi Allah SWT. Di sini kita tidak membayangkan Dzat Allah SWT. Inilah perbedaan zikir kepada Allah SWT dengan iling coro kebatinan atau kejawen (mengingat versi kebatinan atau kejawen).
 
Sering saya kenal tokoh-tokoh kebatinan. Kalau mereka ingin iling (ingat) kepada Pengeran(Tuhan), mereka pergi ke Laut Selatan. Di sana mereka berkumpul lalu berdiam diri. Kira-kira setelah 10 menit berlalu, mereka berkumpul kembali untuk cocokan (saling mencocokkan). Di sinilah letak kesalahan mereka. Ada yang ngomong: “Saya lihat kuda tanpa ada kakinya”; ada yang ngomong: “Saya melihat kereta api yang berjalan ke bawah”. Padahal tidak ada yang bisa mempertanggung-jawabkan semua itu, apakah termasuk ilham, wahyu ataukah halusinasi?. Karena menurut ilmu jiwa, wangsit (pesan gaib) itu kemungkinan berasal dari luar dirinya, lalu masuk ke dalam dirinya; namun kadang-kadang merupakan refleksi perasaan dari dalam dirinya. 
 
Kalau wangsit itu dari luar dirinya, apakah dari Tuhan?, jin? atau setan? Siapa yang bisa membedakan?, tidak ada!. Belum lagi kalau wangsit itu berasal dari dalam dirinya. Manusia itu mempunyai alam bawah sadar. Ketika sedang merenung atau tidur, alam bawah sadarnya naik. Misalnya: Ada anak wis suwe kepingin (sudah lama ingin) pacaran, kok nggak oleh-oleh (tapi tidak kunjung mendapat pacar). Lalu dia tidur dan bermimpi pacaran. Itu bukan pacaran, melainkan halusinasi. Jadi, siapa yang bisa menjamin bahwa wangsit itu sudah beres?. Oleh karena itu, kita jangan ikut-ikutan. Merdukun (pergi ke dukun) dan percaya wangsit dilarang oleh Nabi Muhammad SAW melalui sabda beliau: “Para ahli perbintangan (peramal; astrolog) itu berdusta, walaupun mereka benar”.
 
 
Maksudnya: Orang yang ahli menebak (peramal; dukun) itu bohong, senajan bener (meskipun benar). Mergo umpomo bener, iku ketepaan (sebab seumpama benar, itu hanya kebetulan). Kenapa demikian?, karena dukun tidak bisa membedakan yang mana jalur Allah SWT, jalur setan, jalur jin, jalur nafsu mudal (keluar), dan sebagainya. Apa yang bisa membuat dia bisa membedakan antara ilusi dan halusinasi?, tidak ada!. Oleh karena itu, zikir harus kita beresi, supaya zikir kita benar. Sedangkan yang kita bayangkan ketika berzikir bukanlah Dzat Allah SWT, melainkan kekuasan Allah SWT. 
 
Untuk menuju ke zikir yang sebenarnya, Islam memberi jalur yang disebut mujahadah (olah hati). Mujahadah adalah jalan menuju kepada Allah SWT secara Islami. Misalnya: Membersihkan hati dan pikiran, sehingga tidak ada “selimut” (penghalang) yang menyelimuti kita dari hidayah Allah SWT. Yang demikian ini jalurnya al-Quran dan Hadis. Hati-hati jangan sampai meleset (salah sasaran), karena akibatnya bisa menjadikan musyrik (mempersekutukan Allah SWT) atau menganggap bahwa ada tuhan lain selain Allah SWT. Sedangkan perbuatan syirik adalah dosa yang tidak terampunkan lagi. 
 
Zikir dan ibadah yang benar dengan sendirinya akan menebalkan iman. Oleh karena itu, salah jika mahasiswa diskusi terus tentang teologi, tapi nggak sembahyang (shalat). Hal ini sama dengan orang yang berdiskusi tentang rawon, tapi nggak pernah makan rawon. Yang ada adalah wacana “kerawonan”, bukan ngerasakno (merasakan) rawon. Atau sama dengan diskusi tentang hubungan suami-istri, tapi nggak nikah, yo tetep nayeng (tetap karatan). Jadi, Allah SWT diusahakan masuk ke dalam rasa, tidak cukup hanya dalam rasio. Semoga iman kita bertambah, karena kita sudah beribadah, meskipun tanpa harus berdiskusi. Dengan beribadah, berarti sudah ada pembersihan hati, pikiran dan nafsu kita.
 
Ada tiga istilah yang saling berhubungan. PertamaKitabiyyatullah atau kodrat Allah SWT yang sudah tidak bisa diubah-ubah lagi. KeduaMasyiatullah atau kehendak Allah SWT yang bisa ke kiri dan ke kanan. Ketiga, janji Allah SWT yang tidak akan pernah diingkari oleh-Nya. Di situlah tempat ikhtiar manusia. Ikhtiar adalah usaha atau rekayasa. Namun ikhtiar tidak boleh menabrak Kitabiyyatullah maupun Masyiatullah. Ikhtiar berada pada sela-sela Masyiatullah. Oleh karena itu, orang harus belajar dan bekerja. 
 
Yang pertama kali dicari setelah tauhid dan ibadah adalah kebutuhan hidup. Carilah kebutuhan makan, minum, sandang, pangan, dan sebagainya. Itu perintah Allah SWT dalam Surat al-Furqan [25]: 47, Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (Q.S. al-Furqan [25]: 47).
 
Maksudnya: Allah SWT menjadikan siang untuk digunakan mencari kebutuhan hidup. Jadi, nganggur itu, selain nggak punya uang, juga mendatangkan dosa. Ini penting untuk diketahui para pengangguran. Selama manusia masih mampu bekerja, maka dia harus bekerja. Menganggur itu salah, sekalipun tidak haram. 
 
Sedangkan malam hari disediakan oleh Allah SWT untuk digunakan beristirahat dan tidur. Yang “ngomong” seperti itu al-Quran. Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana dengan orang yang bertugas jaga malam, yakni bekerja di malam hari dan istirahat di siang hari?”. Yang demikian itu pengecualian, karena tidak mungkin seluruh warga kampung berjaga malam. Kalau sampai seluruh warga kampung jaga malam, lalu tidur pada siang harinya, berarti mereka semua stres. Jadi, normalnya, manusia bekerja di siang hari dan beristirahat di malam hari. 
 
Semua rezeki dan fadhal (karunia) Allah SWT diberikan kepada manusia secara gratis alias tanpa bayar. Ambillah semaumu!. Mengapa benda ada harganya?, karena benda itu sudah terlanjur diperoleh orang lain, sehingga tidak boleh diminta begitu saja, kalau tidak disertai harga tertentu. Pada mulanya, benda itu gratis dari Allah SWT untuk manusia. Misalnya: Kita boleh minum air sumber secara gratis. Akan tetapi, kalau kita ingin minum air yang dikemas dalam botol, maka harus membayar untuk mendapatkannya. Jadi, mengapa di dunia ini ada harga? karena rahmat dan fadhal (karunia) Allah SWT sudah terlebih dahulu diambil orang lain. Oleh sebab itu, pergeseran antar
Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda