Ibadah dan Kerja Sejak Muda

By admin 12 Nov 2018, 00:00:00 WIB Artikel Dosen
Ibadah dan Kerja Sejak Muda hak milik juga diatur dalam syariat Islam. 
 
Di dalam Hadis ada keterangan bahwa selagi manusia membutuhkan dunia, maka dia harus bergerak untuk mencarinya dan tidak boleh menunggu; meskipun adakalanya orang yang menunggu saja tanpa mencari, bisa memperoleh kebutuhan hidupnya. 
 
Ada juga makhluk Allah SWT yang memang nggak disuruh mencari kebutuhan hidup, cukup menunggu saja. Contoh: Kolomonggo (laba-laba). Laba-laba itu tidak perlu mencari makan, melainkan disuruh menunggu datangnya makanan. Oleh karena itu, laba-laba dikasih jaring, lalu ada lalat atau serangga yang terjebak di situ, sehingga menjadi makanan laba-laba. Oleh karena itu, tidak ada laba-laba yang kaliren (kelaparan). Jadi, kalau ada manusia tidak mau mencari, hanya mau menunggu datangnya rezeki, berarti dia itu manusia laba-laba; karena pada dasarnya, manusia itu diperintahkan untuk mencari kebutuhan hidup. 
 
Dalam mencari kebutuhan hidup, hasil yang diperoleh tergantung pada peluang yang ada dan tergantung pada Masyiatullah (kehendak Allah SWT). Peluang yang dimaksud meliputi kerajinan, kepandaian, kapasitas, kemampuan untuk bersaing atau yang biasa disebut potensi SDM. Kalau potensi SDM-nya besar, maka hasilnya juga besar; begitu juga sebaliknya. Misalnya: Kalau ada orang memancing ikan dalam satu hari, lalu dia memperoleh 10 ekor ikan, maka itu sudah termasuk “super mancing”, karena alatnya memang kecil. Tentu dia tidak bisa berharap memperoleh hasil yang sama dengan hasil tangkapan nelayan yang membawa kapal besar untuk menyedot ikan di lautan. Hal itu tidak mungkin terjadi mengingat perbedaan kapasitas yang ada. Meskipun demikian, semua ini tidak bisa menabrak Masyiatullah. Misalnya: Kalau kapal itu terkena badai, lalu tenggelam, maka nelayannya tidak jadi makan ikan, justru akan dimakan oleh ikan. 
 
Perhatikan ini betul-betul!. Yang terpenting adalah besarkan kemampuanmu untuk mencari rezeki dan kamu harus sadar bahwa ada kehendak Allah SWT yang membatasi kamu. Sekalipun kamu terbatas, kalau kualitas iman dan ibadahnya bagus, maka kamu tetap bisa longgar dengan rezeki yang sedikit, dan bisa merasa nikmat dengan rezeki yang banyak. Itu kalau sudah ada jaminan iman dan ibadah yang bagus. Di sinilah letak kasih sayang Allah SWT dan keadilan-Nya. Bagi yang mendapat hasil banyak, ya bersyukur mengucap Alhamdulillah; sedangkan bagi yang mendapat hasil sedikit, ya dicukup-cukupkan sambil berdoa mudah-mudahan besok mendapat hasil yang banyak. 
 
Seperti halnya orang yang sedang menahan lapar karena puasa, seakan-akan kalau ada makanan –sekalipun empat tumpeng– akan dihabiskan semua, saking luwene (karena sangat lapar). Tapi ketika sudah buka puasa, makan dua kotak makanan saja sudah glegeen(kekenyangan). Kalau sampai ada orang yang menghabiskan tiga kotak makanan, berarti dia itu memang nggragas (rakus). Ini menunjukkan tidak ada kesamaan antara kenyataan ketika orang berbuka puasa, dengan bayangan ketika dia masih lapar yang merasa semua makanan mau dihabiskan. Jadi, ada perbedaan antara kemauan dan kebutuhan. Di sinilah letak keadilan Allah SWT. 
 
Kenapa ada orang kaya?, orang cukupan?, orang miskin?. Orang yang miskin diberi hak Allah SWT untuk menerima zakat; sedangkan orang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat. Kalau orang kaya tidak mau mengeluarkan zakat, maka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa yang miskin maupun yang cukupan bisa hidup bahagia. 
 
Contoh: Saya dulu pernah sekolah. Saat itu jarang ada sepeda. Bahkan dalam satu kecamatan pun, belum tentu ada satu orang pun yang mempunyai sepeda, apalagi berstatus mahasiswa. Ketika itu, karena saya anaknya orang miskin, maka saya dibelikan sepeda oleh kakak ipar. Nikmatnya bersepeda itu bagi saya sungguh Masya Allah Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billah. Sekarang saya sudah tua, kalau saya mancal sepeda, justru akan kepancal dewe(dipancal oleh sepeda). Oleh karena itu, saya mesti naik mobil yang bagus-bagus. Akan tetapi, kenikmatan yang saya rasakan ketika naik sepeda ontel (pancal) dulu dengan naik mobil sekarang ini, jauh lebih nikmat naik sepeda ontel. Jadi, sebenarnya di mana tempat kesenangan itu berada?. Jawabannya, di dalam hati. 
 
Dulu saya tidak pernah makan makanan enak, sehingga kalau diundang kondangan (walimah; resepsi), rasanya seperti mendapat Lailatul Qadar. Kalau ada tetangga yang selametan (selamatan; walimah), seolah-olah belum diundang saja, sudah merasa kenyang, karena saking senenge (begitu senangnya). Sekarang ini, saya selalu disuguhi makanan prasmanan dan tidak pernah disuguhi makanan yang tidak enak. 
 
Tahadduts bi al-nimah, kalau saya diundang di sana-sana, saya selalu dicarikan makanan yang paling enak oleh tuan rumah. Akan tetapi, saya merasa tidak pernah makan seperti dulu. Karena setiap kali kenyang maupun lapar, saya mengalami maag. Sehingga dengan demikian, Allah SWT membagi keadilan tidak hanya dalam bentuk jumlah rezeki, tapi juga menyampaikan keadilan melalui rasa terhadap rezeki itu. Ini yang tidak dimiliki orang-orang kapitalis maupun ekonom-ekonom yang hanya menghitung benda, tapi tidak menghitung sikap hati manusia terhadap benda itu. 
 
Misalnya: Saya pernah bertanya kepada seorang teman, “kalau kamu keluar untuk bekerja dapat uang berapa?”. Dia menjawab: “Sampai jam 11.00 WIB, kadang memperoleh uang Rp. 7.500”. Kemudian dia saya beri uang Rp. 50.000, lalu dia tidak bisa tidur, mergo akehe duwek (karena begitu banyaknya uang). Akan tetapi, seandainya uang Rp. 50.000 itu diberikan kepada orang yang cukup, maka uang itu tidak akan ada apa-apanya. Jadi, di sini ada rasa dan ada volume. Oleh karena itu, diperlukan barakah dari Allah SWT. 
 
Adapun pergeseran antar hak milik itu harus dengan ridha. Oleh karenanya, yang pertama kali disyariatkan oleh Islam adalah tata cara jual beli dan perpindahan hak milik dari satu orang kepada orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surat al-Baqarah [2]: 275, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Q.S. al-Baqarah [2]: 275).
 
Kalau kita ingin mencari rezeki, maka berdagang atau berjual-belilah. Istilah yang paling bagus adalah jual-beli. Jual beli di sini tidak selalu dengan uang, yang penting ada tukar-menukar. Oleh karena itu, barter juga termasuk jual beli. Akan tetapi Allah SWT mengharamkan riba. 
 
Apakah riba itu?, riba adalah pengambilan harta seseorang oleh orang lain, tanpa ada kompensasi manfaat di situ. Misalnya: Saya meminjam uang untuk makan sebanyak Rp. 10.000, lalu uang habis. maka nanti saya harus mengembalikan uang itu sebanyak Rp. 12.000. Lalu uang Rp. 2000 itu uang apa?, kan tidak ada posisi kompensasinya dan tidak ada posisi tukar-menukar manfaatnya. Hukumnya riba adalah haram. Kita harus hati-hati, jangan sampai makan riba yang haram seperti itu. 
 
Bagaimana dengan hukum bunga bank? Ada pendapat yang banyak. Ada yang bilang boleh, tidak boleh, dan ragu-ragu. Kenapa demikian?, Ulama yang membolehkan bunga bank berargumen bahwa orang yang meminjam uang sejumlah Rp. 10.000 untuk digunakan modal kerja. Siapa tahu dia nanti memperoleh keuntungan sebanyak Rp. 5.000, sehingga yang Rp. 2000 diberikan kepada orang yang meminjaminya; sedangkan yang Rp. 3.000 kembali kepada dirinya. Ini salah satu alasan ulama yang membolehkan bunga bank. Jadi, menurut mereka, di sini kedua pihak sama-sama mendapatkan manfaat. 
 
Ada ulama yang bilang bahwa bunga bank itu hukumnya tidak boleh (haram). Alasannya, siapa yang bisa menjamin seseorang pasti akan memperoleh untung dan tidak rugi?. Bagaimana kalau dia meminjam uang sejumlah Rp. 10.000 untuk dibuat berdagang, lalu dia bangkrut. Kemudian dia diharuskan mengembalikan uang pinjaman itu sebanyak Rp. 12.000, maka yang Rp. 2.000 itu uang apa?. Ini salah satu alasan ulama yang tidak memperbolehkan bunga bank. 
 
Ada pula ulama yang menilai bunga bank itu syubhat (abu-abu antara halal dan haram). Mereka beralasan, seseorang seharusnya menghitung, kalau dia sulit untuk memperoleh keuntungan lebih dari Rp. 2000, maka untuk apa dia harus berhutang. 
 
Ada ancaman Allah SWT bahwa orang yang rezekinya dari riba sesuai pengertian di atas; maka jangan harap dia akan menjadi husnul khatimah. Saya dengar bahwa di Pasar Besar Malang, ada orang yang memberi pinjaman uang kepada para melijo dengan
Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda