Ibadah dan Kerja Sejak Muda

By admin 12 Nov 2018, 00:00:00 WIB Artikel Dosen
Ibadah dan Kerja Sejak Muda bunga harian, bukan bulanan. Jadi, kalau orang yang pinjam itu kemudian jatuh sakit selama dua bulan, maka berapa bunga uang yang harus dia kembalikan?. Inilah contoh orang bangsat atau yang menurut al-Quran disebut sebagai orang yang mau makan bangkai saudaranya sendiri. Kita semua jangan sampai terlibat uang yang seperti ini!.
 
Allah SWT juga berfirman dalam Surat al-Baqarah [2]: 282, Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhutang tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya; maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun catatan hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah hutang-piutang itu), kecuali jika berupa perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al-Taubah [2]: 282). 
 
Ayat di atas menyatakan bahwa kalau berjual beli, hendaknya ada saksi. Kwitansi boleh dijadikan saksi, begitu juga orang yang dijadikan saksi; karena dalam proses jual beli terdapat banyak penipuan dan manipulasi. Jadi, sejak dulu al-Quran sudah menghitung bahwa wong iki mesti mbelinge (manusia itu pasti berbuat nakal), sebab Dzat yang membuat wong sing mbeling iku sama dengan Dzat yang berfirman dalam al-Quran. 
 
Kecuali jika jual beli itu cash and carry atau cul-culan (tunai), maka boleh tanpa disertai saksi. Akan tetapi, kalau berupa perjanjian, kontrak, hutang, dan sebagainya; al-Quran memerintahkan agar semua itu dicatat sebagai persaksian atau bukti tertulis. Jadi, manajemen perdagangan itu Qurani dan Islami. Anehnya, sing ngelekoni iki wong liyane Islam (yang menjalankan manajemen perdagangan justru orang non muslim), sedangkan orang muslim sendiri tidak mau menjalankannya, bahkan nggak ngeregani (menghargai) administrasi, termasuk NU. Ketika NU mempunyai aset apapun, pasti tidak ada catatannya, sehingga mudah hilang diambil orang lain. Karena mestinya harus ada akte, sertifikat, dan sebagainya. Namun, kadang-kadang orang tidak menyambungkan perintah al-Quran dangan administrasi, sehingga seakan-akan administrasi itu milik orang lain, sedangkan al-Quran itu milik orang Islam. Kekalahan orang Islam itu di sini. Yaitu al-Quran dipedot-pedot dewe (dipotong-potong sendiri). Contoh: seakan-akan mempelajari ilmu manajemen bukan perintah agama Islam atau al-Quran. 
 
Sekalipun sifatnya cash and carry (tunai), tentu lebih baik dicatat, baik berupa kwitansi atau nota. Misalnya, saya pernah membeli arloji di New York, karena di arloji itu ada lambang bintang sembilan, iki (ini) arloji NU. Di sana saya diberi nota pembelian.
 
Begitu ketatnya al-Quran dalam mengatur pergeseran antara hak dari satu orang kepada orang lain. Karena di sinilah terdapat dosa-dosa dan pertikaian-pertikaian. Jadi, ada ayat yang menyuruh kita agar jangan sampai terlibat di dunia ini, sehingga menjadi hamba dunia; tetapi ada pula ayat al-Quran yang mengatur dunia itu sendiri. [Dr. Rosidin, M.Pd.I]
 
 

Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda