Membongkar Akar Kebencian

By Akhmad Said 10 Feb 2017, 07:55:33 WIBArtikel Dosen
Membongkar Akar Kebencian

[Dr. Rosidin, M.Pd.I.]

BARU-baru ini, umat muslim sedang dihangatkan oleh wacana “sertifikasi khatib atau penceramah” oleh Kementerian Agama. Konon, “asbabul-wurud” wacana itu adalah podium pidato dan mimbar khutbah digunakan sebagai corong untuk menebar kemarahan dan kebencian di kalangan umat. Jika demikian adanya, tentu ada yang hilang dari wajah muslim Indonesia. Wajah yang sedari dulu terkenal ramah, tiba-tiba lebih sering tampil marah.

Sebagai ajaran, Islam mempromosikan rahmatan lil-alamin, keramahan kepada segenap makhluk, bukan kemarahan, apalagi kebencian. Secara historis, Walisanga mendakwahkan Islam dengan ramah, sehingga Islamisasi di Indonesia tidak melalui jalur peperangan yang berdarah-darah, melainkan perdagangan, perkawinan hingga kebudayaan.

Kemarahan kerap berkelindan dengan kebencian. Beragam bentuk ekspresi kemarahan dan kebencian meluber di berbagai media sosial, sehingga sumpah serapah menjadi menu harian dari pagi hingga pagi berikutnya tiba. Fakta ini berbanding terbalik dengan seruan Al Quran agar umat muslim mengedepankan komunikasi yang bijaksana (marufan), santun (kariman) dan lembut (layyinan).

Agar situasi ini tidak berlarut-larut, maka perlu ada penanganan yang serius. Dalam hal ini, penulis mencoba menelaah fenomena kemarahan dan kebencian dari perspektif al-Quran dan Hadis, disertai analisis secukupnya.

Pertama-tama perlu dilacak sebab-asal kemarahan dan kebencian. Jika mengacu pada keterangan Al Quran, “Bapak Kemarahan dan Kebencian” adalah setan. Inilah yang disinyalir oleh Surat al-Maidah [5]: 91, “Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu”.

Diperkuat pula oleh Hadis riwayat Muadz ibn Jabal RA bahwa ada dua orang saling mencela di dekat Nabi SAW. Salah seorang teramat marah kepada rekannya. Lalu Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui kalimat yang jika dibaca, niscaya hilanglah kemarahan”. Muadz ibn Jabal RA bertanya: “Apakah itu, wahai Rasulullah SAW?”. Nabi SAW menjawab: “Mengucapkan (Allahumma inni audzu-bika min al-syaithan al-rajim), Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk”.

Kemudian Muadz RA memerintahkan kepada orang yang marah agar membaca doa tersebut, namun dia menolak, sehingga menjadi bertambah marah. (H.R. Abu Dawud).

Menurut keterangan Surat al-Araf [7]: 17, ketika menggoda manusia, setan mendatangi manusia dari arah depan, belakang, kanan dan kiri. Hanya saja, setan tidak bisa mendatangi manusia dari arah atas, karena merupakan arah datangnya rahmat Allah SWT.

Demikian pendapat Ibn Abbas RA. Setan adalah penggoda yang sudah terlatih sejak zaman Nabi Adam AS, sehingga sudah “profesional”. Setan dapat melihat kita, sedangkan kita tidak dapat melihat setan. Manusia melawan setan itu ibarat seorang petinju amatir yang ditutup matanya harus melawan seratus petinju profesional yang terbuka matanya. Tentu mustahil bagi manusia menang dari setan.

Oleh sebab itu, hanya ada satu jalur yang dapat ditempuh oleh manusia dalam menghadapi godaan setan, yaitu memohon perlindungan langsung dari Allah SWT. Inilah tips yang termaktub dalam Surat al-Araf [7]: 200, dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.

Bahkan Allah SWT sendiri mengajarkan doa agar terhindar dari godaan setan, sebagaimana tertera dalam Surat al-Muminun [23]: 97-98

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ (97) وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ (98

“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”

Aroma kemarahan dan kebencian ditiupkan setan kepada dua jenis manusia. Pertama, keluarga sendiri. Surat al-Taghabun [64]: 14 menginformasikan sebagai berikut, Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Musuh Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS adalah istri dan anak-anak beliau. Musuh Sayyidah Asiyah adalah Firaun, suaminya sendiri.

Musuh juga berasal dari pihak ayah, sebagaimana musuh Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri. Musuh Nabi Musa AS adalah Firau, ayah angkat beliau. Saudara sendiri juga berpotensi menjadi musuh, seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf AS yang dimusuhi oleh sepuluh orang saudara beliau yang seayah. Sedangkan kisah Nabi Muhammad SAW yang dimusuhi Abu Lahab, menunjukkan bahwa paman-bibi bisa menjadi musuh.

Kedua, orang lain. Sejak awal, Allah SWT sudah menetapkan bahwa setiap manusia adalah musuh bagi sesama manusia (Q.S. al-Araf [7]: 24). Buktinya adalah pertikaian hingga peperangan yang berlangsung sepanjang zaman. Dalam skala luas, permusuhan antar manusia terjadi dalam bentuk kompetisi yang tidak sehat di berbagai ranah kehidupan. Misalnya pengusaha memusuhi pengusaha lainnya.

Dalam menghadapi musuh dari kalangan keluarga maupun orang lain, setidaknya al-Quran mengajarkan empat tips. Pertama, memperlakukan musuh dengan lebih baik, sehingga permusuhan dapat berubah menjadi persahabatan. Inilah yang dianjurkan dalam Surat Fushshilat [41]: 34, Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Rasulullah SAW sering menunjukkan keberhasilan tips ini. Kisah Sayyidina Umar RA yang lebih membela orang Yahudi yang rumahnya hendak digusur oleh Gubernur Mesir, Amr ibn al-Ash RA, demi kepentingan perluasan masjid, justru membuat si Yahudi beralih menjadi mualaf, karena merasa diperlakukan dengan adil oleh sang khalifah.

Kedua, memperlakukan musuh yang berstatus muslim sebagai saudara. Artinya, selama orang yang dianggap musuh itu berstatus muslim, maka dilarang untuk menyakiti, baik merendahkan harga dirinya, menzhalimi harta bendanya, apalagi mengucurkan darahnya. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sebuah Hadis riwayat Abu Hurairah RA, “orang muslim adalah saudara orang muslim lainnya… setiap muslim atas muslim lainnya, diharamkan harga dirinya, harta bendanya dan darahnya”.

Ketiga, mengedepankan persatuan daripada perpecahan. Melalui persatuan, seluruh umat muslim yang dulunya bercerai-berai, akhirnya bersatu di bawah bendera Islam. Meskipun dalam setiap persatuan akan ditemukan hal-hal yang kurang berkenan di hati kita, namun itu jauh lebih baik daripada kita menemukan hal-hal yang kita senangi dalam perpecahan. Hal ini dikarenakan, persatuan mengundang rahmat, sedangkan perpecahan mengundang adzab.

Al-Dailami meriwayatkan Hadis dari sanad Jabir RA, “Apa yang kalian benci dalam persatuan lebih baik daripada apa yang kalian sukai dalam perpecahan. Dalam persatuan terdapat rahmat, dan dalam perpecahan terdapat adzab”. Contoh, bisa jadi tidak semua orang muslim senang dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945. Ketidak-senangan dalam bingkai persatuan NKRI, lebih baik daripada memaksakan ideologi yang disenangi, namun berakibat perpecahan antar warga negara Republik Indonesia.

Keempat, mengubah permusuhan menjadi kerjasama. Salah satu strategi komunikasi yang dapat diterapkan ketika menghadapi konflik permusuhan adalah win-win solution, yaitu pendekatan menang-menang. Bukan pendekatan zero-sum solution, yaitu pendekatan menang-kalah. Inilah yang kiranya dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika bekerjasama dengan pihak-pihak “musuh”, seperti kaum Yahudi, dalam peristiwa kesepakatan Piagam Madinah.

Walhasil, akar kebencian adalah godaan setan yang ditanamkan ke dalam hati manusia, baik keluarga maupun orang lain. Untuk membongkarnya, dibutuhkan pertolongan Allah SWT melalui doa, disertai dengan ikhtiar empat lapis: bersikap lebih baik, menekankan ukhuwwah Islamiyyah, memprioritaskan persatuan dan mengubah permusuhan menjadi kerjasama yang menguntungkan (win-win solution).  Wallahu Alam bi al-Shawab. (*)

*Penulis adalah Dr. Rosidin, M.Pd.I. dosen STAIMA Al-Hikam Malang serta Pengurus Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang

sumber dari http://www.nukita.id