Budaya Organisasi di Perguruan Tinggi

By admin 02 Dec 2016, 22:00:45 WIB Artikel Dosen
Budaya Organisasi di Perguruan Tinggi

Mutamakin- TALIMUNA, Vol. 8, No. 1, Maret 2015-ISSN 2085-2975

 

Abstract:

Organizational culture is a shared meaning of values, beliefs, traditions, and organizational philosophy which members of the organization own, so, the organization is different from the other organizations.  Organizational culture that members feel is a quality, its supported by the shared meaning based on the value of helping each other. The quality of culture is supported by all tangible and intangible organization elements. They are statements of vision and mission, organization value, artifacts, teaching-learning process, technology, the practice of management and accounting and training skill.

Key   words:   Organizational   culture,   values,   organizational philosophy, Higher Education

Kata   kunci:   budaya   organisasi,   nilai,   filosofi   organisasi, perguruan tinggi.

Pendahuluan

Setiap organisasi memiliki karakteristik budaya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Karakteristik budaya dalam suatu organisasi dapat mengantarkan   suatu   organisasi   berkembang   melebihi   organisasi

lainnya, meskipun organisasi tersebut bergerak dalam bidang dan lokasi yang   sama.   Harvard   University   dan   Massachusetts   Institute   of Technology (MIT) misalnya, berada di lokasi yang berdekatan, namun masing-masing   mempunyai   keunggulan   yang   unik.   Hal   itu dilatarbelakangi  karakteristik  dan  struktur  organisasinya (Robbins,

2001; MIT, 2002). Keunikan suatu organisasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain nilai dan norma yang dianut anggotanya, kepercayaan dan kebiasaan yang berlaku di dalam organisasi, dan filosofi organisasi. Berbagai faktor ini lah yang dsebut oleh para ahli organisasi sebagai budaya organisasi (Ouchi, 1981).

Budaya organisasi ada dan melekat di semua organisasi besar atau kecil, di manapun atau kapanpun, termasuk organisasi perguruan tinggi STAIMA Al-Hikam Malang. Konsistensi budaya organisasi STAIMA Al-Hikam Malang cenderung stabil. Hal itu dapat diamati dari perilaku dan  kondisi  sehari-hari  ketika  mereka  berinteraksi.  Misalnya,  tata lingkungan   kampus,   pertamanan.   Manajemennya   didukung   oleh teknologi informasi, layanan unggul, dan sikap karyawan organisasi yang baik dan unik. Dikatakan unik karena ada kandungan nilai, norma, kebiasaan, dan filosofi yang berbeda dengan organisasi kependidikan lainnya yang dapat diamati (tangible) dalam perilaku serta interaksi

mereka sehari-hari.

Bedasarkan hal itu, penelitian ini akan mengungkapkan mengapa dan bagaimana (1)  terbentuknya  budaya  organisasi, (2)  wujud  budaya organisasi yang dimaknai oleh anggota organisasi, (3) perekat budaya organisasi, (4) budaya organisasi, iklim dan efektivitas organisasi, dan(5) kendala budaya organisasi di STAIMA  Al-Hikam Malang.

Metode

Penelitian dilakukan di STAIMA Al-Hikam Malang menggunakan rancangan kualitatatif yang ditopang oleh pendekatan etnografi dan fenomenologi. Pendekatan etnografi dalam penelitian ini digunakan untuk mempelajari, mengungkapkan, dan menggambarkan makna dari suatu peristiwa yag dikaji dalam konteks budaya berdasarkan kepada aspek  atau  dimensi  keyakinan  etnis  yang  menjadi  latar  peristiwa tersebut.

Pendekatan fenomenologi digunakan untuk mempelajari, mengungkap, dan memerikan, serta menganalisis secara kritis fenomena yang ada dalam konteks komunitas  perguruan tinggi.  Objek fenomena  yang dikaji  dalam  hal  ini  meliputi  nilai  yang  dominan,  keyakinan , kepercayaan, kebiasaan, dan filosofi organisasi yang berkembang dan diyakini serta bermakna dalam berinteraksi bagi komunitas STAIMA Al-Hikam Malang. Perilaku sebagai bagian dari budaya organisasi

hanya dapat dimengerti apabila hal yang ada dibalik pemikiran subjek yang  diteliti  dapat  dipahami.  Menurut  Brannen (1992);  Moleong (2000); dan Dimyati (2000) pendekatan fenomenologis lebih tepat digunakan dalam suatu penelitian apabila (1) peneliti ingin memahami makna peristiwa dan interaksi dalam situasi tertentu, (2) memahami subjek penelitian dari subjek dan aspek subjektif dari subjek, (3) data penelitian   yang   dibutuhkan   bersifat   laten, (4)   tujuan   penelitian mengungkap kedalaman pemaknaan perilaku kolektif bagi anggota organisasi, dan (5) fokus penelitian terkait dengan hubungan fungsional antara anggota organisasi.

Fokus penelitian terdiri dari  (1) terbentuknya nilai, keyakinan dan kebiasaan di  dalam organisasi; (2) wujud budaya organisasi  yang dimaknai oleh anggota organisasi; (3) perekat budaya organisasi, (4) budaya organisasi, iklim dan efektivitas organisasi; dan (5) kendala budaya.

Pendekatan fenomenologi dalam penelitian ini menggunakan tiga tahap reduksi, yaitu reduksi fenomenologis,  eidetis,  dan  transendental. Reduksi fenomenologi dilakukan sejak peneliti masuk ke dalam situs penelitian. Caranya adalah melepaskan semua atribut yang ada pada peneliti agar data yang diperoleh adalah data murni, alami, sesuai dengan  konteks  budaya  organisasi  lembaga  yang  diteliti.  Reduksi eidetis   merupakan   usaha   peneliti   untuk   mencocokkan   hakikat pemaknaan yang dibuat peneliti dengan hakikat pemaknaan menurut subjek yang diteliti.  Sementara  itu,  reduksi  transendental  dalam penelitian ini merupakan usaha mengaitkan hakikat pemaknaan pola perilaku anggota organisasi dengan hakikat yang lebih dalam, yakni makna dalam kaitannya Tuhan pencipta manusia dan alam sekitarnya.

Subjek   penelitian   terdiri   dari   pimpinan,   karyawan,   dosen,   dan mahasiswa. Penentuan subjek menggunakan teknik snowball sampling (Bogdan & Biklen, 1998). Artinya, siapa saja yang dijadikan sampel ditentukan berdasarkan kebutuhan peneliti dan penjelasan dari subjek

penelitian sebelumnya yang dilakukan secara terus-menerus sampai secara metodologis dipandang mencukupi.Data   dikumpulkan   menggunakan   teknik   observasi,   wawancara mendalam,  dan  dokumentasi.  Teknik  observasi  digunakan  untuk memperoleh   gambaran   sesungguhnya   tentang   perilaku   anggota organisasi.   Wawancara   mendalam   digunakan   untuk   memperoleh pemahaman   dan   pemaknaan   anggota   organisasi   tentang   nilai,

keyakinan, dan kebiasaan yang berlaku dalam organisasi. Dokumentasi digunakan untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam.

 

Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yang di dalamnya melibatkan kegiatan pengumpulan data, sajian data, reduksi data dan penarikan simpulan (Miles & Huberman, 1984). Untuk menguji keabsahan data dilakukan triangulasi metode dan triagulasi subjek   penelitian.   Triangulasi   metode   dilakukan   dengan   cara membandingkan  data  yang  diperoleh  dengan  wawancara  dan  data observasi   atau   dokumen.   Triangulasi   subjek   dilakukan   dengan mencocokkan data yang diperoleh dari kepala sekolah dengan data yang diperoleh dari guru atau siswa. Di samping itu, dalam triangulasi ini digunakan juga pendapat dari para ahli tentang persoalan-persoalan yang mengemuka dari temuan penelitian.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa: pertama, terbentuknya budaya organisasi tidak terlepas dari peran pimpinan organisasi. Pimpinan adalah model nilai  berjalan  yang  dipatuhi,  dan  diteladani  oleh anggota  organisasi.  Sementara  itu,  nilai  yang  dikembangkan  dan diterapkan sejak dini adalah kejujuran, keadilan dan tanggung jawab.

Nilai tersebut mengukuhkan hubungan internal anggota organisasi dan mendorong   mereka   bekerja   efektif.   Hal   ini   dimaknai   sebagai keunggulan dan strategi organisasi.

Ada dua  filosofi  organisasi  yang  dipegang  teguh  oleh  pimpinan organisasi yaitu filosofi air dan filosofi harmoni. Filososfi air diambil dari  pemaknaan 

Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda