Kemuliaan 10 Malam Zulhijah

By Akhmad Said 24 Agu 2017, 07:58:44 WIBArtikel Dosen
Kemuliaan 10 Malam Zulhijah

Di penghujung bulan Zulkaidah –bulan pertama dari asyhur al-hurum (empat bulan mulia)- kita dianjurkan untuk memperbanyak bacaan talbiah (Labbayk Allahumma Labbayk). Setelah sebelumnya kita men-dawam-kan doa Nabi Adam as yang berisi pengakuan diri atas segala dosa kesalahan dan kezaliman yang diperbuat (QS al-Aʻraf [7]: 23), guna membersihkan hati dan jiwa dari kotornya dosa. Kebersihan hati dan kejernihan jiwa mutlak diperlukan untuk menjadikan diri kita pantas diundang oleh Allah Yang Maha Rahman. Oleh karenanya bacaan talbiah -yang sebenarnya khusus bagi jamaah haji- juga disarankan bagi umat Muslim yang tidak pergi haji. Bagi mereka talbiah yang bermakna memenuhi panggilan bertujuan agar mereka dapat mendengar panggilan Allah swt sehingga kelak bisa berangkat haji.
Demi menyambut bulan haji (Zulhijah), bacaan talbiah menjadi sebuah penghormatan sambutan. Sebab bulan Zulhijah disamping menjadi salah satu bulan asyhur al-hurum, kemuliaannya secara khusus bernas baik dalam al-Quran maupun Sunah. Terbukti Allah swt bersumpah menggunakan sepuluh malam pertama Zulhijah (lihat QS al-Fajr [89]: 1-2). Memang sepuluh malam Zulhijah memiliki keistimewaan tersendiri. Hingga para ulama salaf menghimbau bagi umat Muslim untuk menghidupkan sepuluh malam Zulhijah dengan memacu diri mereka dalam beribadah baik shalat sunah maupun puasa.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menukil riwayat dari Syaikh Abu al-Barakat yang diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Nabi saw pernah bersabda:


((مَنْ أَحْيَا لَيْلَةً مِنْ لَيَالِي عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ عِبَادَةَ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ طُوْلَ سَنَتِهِ وَمَنْ صَامَ فِيْهَا يَوْمًا فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالٰى سَائِرَ سَنَتِهِ))


Siapapun yang menghidupkan satu malam dari sepuluh malam pertama Zulhijah, seakan-akan ia beribadah seperti orang yang berangkat haji dan umrah sepanjang tahun. Siapapun juga yang berpuasa satu hari dari sepuluh hari pertama Zulhijah, maka ia seperti beribadah kepada Allah satu tahun penuh.
Al-Daruquthni meriwayatkan dari Jafar al-Shadiq yang sanadnya bersambung hingga kakeknya al-Husain dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi saw pernah bersabda:
Ketika masuk sepuluh malam pertama bulan Zulhijah, bersungguh-sungguhlah dalam ketaatan. Allah swt memberikan keutamaan sepuluh malam tersebut dan juga memberikan kemuliaan siangnya sebagaimana malamnya. Siapapun yang melaksanakan shalat satu malam saja dari sepuluh malam tersebut, pada sepertiga terakhir malam sebanyak empat rakaat. Yang setiap rakaatnya membaca surah al-Fatihah, surah al-Falaq, surah al-Nas masing-masing sekali, dan surah al-Ikhlas diulang tiga kali, serta ayat Kursi. Seusai salam mengangkat kedua tangan membaca doa berikut:


سُبْحَانَ ذِي العِزَّةِ وَالجَبَرُوْتِ سُبْحَانِ ذِيْ القُدْرَةِ وَالمَلَكُوْتِ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العِبَادِ وَالبِلَاِد وَالحَمْدُ لِلِه حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا عَلَى كُلِّ حَالٍ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا رَبَّنَا جَلَّ جَلَالُهُ وَقُدْرَتُهُ بِكُلِّ مَكَانٍ

Kemudian membaca doa sesuai hajatnya masing-masing. Maka orang yang melakukannya satu malam saja mendapatkan pahala orang yang haji ke Baitullah dan berziarah ke makam Rasulillah saw serta berjihad di jalan-Nya. Ia minta apapun pasti akan diberi oleh Allah swt.


Jika shalat di atas dilakukan setiap malam hingga malam sepuluh Zulhijah, maka Allah swt akan menempatkannya di surga firdaus, seluruh kesalahannya dihapus. Apalagi jika ditambah puasa hari Arafah dan sebelumnya melaksanakan shalat serta doa tersebut pada malam Arafah, dengan penuh khusyuk dan tadharruk, maka Allah swt akan berkata kepada para malaikat. “Wahai malaikatku saksikanlah aku telah mengampuninya dan aku gabungkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang berhaji di rumah-Ku”. Malaikat akan mengabarkan berita gembira tersebut kepada hamba yang melaksanakan shalat dan doa di atas.
Semoga kita semua bisa menghidupakan sepuluh malam Zulhijah baik puasa maupun shalatnya hingga digabungkan ke dalam orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. (Oleh: KH. Moch. Hilmi Ashiddiqi al-Aroky)