MADRASAH: Antara Tradisi Dan Tuntutan Perubahan

By admin 10 Dec 2016, 08:52:51 WIB Artikel Dosen
MADRASAH: Antara Tradisi Dan Tuntutan Perubahan

Zaedun Naim- TALIMUNA, Vol. 8, No. 1, Maret 2015-ISSN 2085-2975

Abstrac

The situation of progress of development in various sectors of life, urged the madrasa to improve the quality of education are developed. The programs intelligently based on contemporary needs, demands to be realized, so that the existence of madrassas can be functional in answering daily reality, both in the context of developing science and technology, create jobs or in an attempt to  foster  a  critical  attitude,  dynamic  and   be  autonomous Madrasah  need to be developed to meet three demands minimal in improving the quality of madrasah, namely: (1) how to make the madrassa as a vehicle for fostering the spirit or practice of Islamic life, (2) how to strengthen the presence of the madrassa so equally with the school system, (3) how the madrassa able to respond to future demands science and technology in order to anticipate future developments and globalisasiMadrasah era in the context of preparing learners face of changing global age, it becomes important role. Madrasah success in preparing students to face future challenges more complex will produce graduates with a competitive advantage and became the leader of the nations   leaders   that   will   determine   the   direction   of   the development of this nation

Kata kunci: Madrasah, tradisi, tuntutan perubahan

pendahuluan

Madrasah merupakan salah satu lembaga pendikan Islam Indonesia yang biasanya  dibangun  disamping  masjid  dan  pesantren.  Madrasah  pernah berkembang pada abad 11 dan 12, atau periode pertengahan sejarah Islam khususnya  di  wilayah  Bagdad  seperti  madrasah  Nizamiyah.  Madrasah berkembang di Indonesia merupakan fenomena modern pada awal abad 20. Zaenuddin labai dapat disebut sebagai tokoh pertama yang pada tanggal 10 oktober 1915 mendirikan lembaga pendidikan madrasah di padang panjang, sebelum lembaga serupa berkembang di berbagai daerah. Madrasah di Indoneisa bukan merupakan kelanjutan atau adopsi langsung dari madrasah abad pertengahan1

Sebagai sebuah institusi pendidikan, madrasah merupakan bagian dari proses penentu nasib bangsa di masa depan. Oleh karena pendidikan adalah aset untuk mencapai cita-cita di masa mendatang, maka madrasah pun harus memperoleh posisi yang strategis dalam kehidupan anak bangsa. Madrasah yang dimaksud untuk saat ini adalah lembaga pendidikan yang dikelola oleh departemen Agama2

Berkenaan  kemajuan  pembangunan  di  berbagai  sektor  kehidupan menuntut  adanya  sumberdaya  manusia  yang  berkualitas.  Sifat  selektif masyarakat terhadap lulusan pendidikan makin ketat. Hal ini diikuti dengan perubahan sikap masyarakat yang semakin selektif pula dalam memilih lembaga pendidikan.

Bagi  madrasah  dalam  situasi  ini  tak  memberi  pilihan  lain  dalam meningkatkan   kualitas   pendidikan   yang   dikembangkannya.   Madrasah dituntut   menawarkan   program-programnya   secara   cerdas   berdasarkan kebutuhan  kekinian,  sehingga  keberadaan  madrasah  secara  fungsional mampu menjawab realitas keseharian, baik dalam konteks mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan lapangan kerja atau dalam upaya membina sikap hidup yang kritis, dinamis dan mandiri

Agak disesalkan, sistem pendidikan madrasah terbelit aktivitas rutin yang kurang cermat, ditandai dengan praktek pendidikan formal yang kurang menumbuhkan    kreativitas    dan    tanggungjawab,    bahkan    cenderung menanamkan sifat ketergantungan. Kemandirian, kepekaan dan kepedulian sosial peserta didik kurang digali. Akibatnya proses pendidikan madrasah gagal untuk melahirkan lulusan yang kreatif, bermutu dan berdaya saing. Padahal mereka pun tak semuanya memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.3

Tulisan ini bermaksud mengajak kita, agar mencermati kondisi dan persoalan yang dihadapi madrasah, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan  yang  mampu  mewujudkan  effective  school  or  good  school (sekolah  yang  efektif  atau  sekolah  yang  baik),  sehingga  suatu    ketika madrasah akan menjadi pilihan utama.

Sejarah Lahir dan Berkembangnya Madrasah

Sejauh  ini  tampaknya  belum  ada  data  yang  pasti  kapan  istilah madrasah, yang mempunyai pengertian sebagai lembaga pendidikan, mulai digunakan di Indonesia. Para peneliti sejarah pendidikan Islam pun pada umumnya lebih tertarik membicarakan sistem pendidikan atau pengajaran tradisional  Islam  yang  digunakan  baik  di  masjid,  surau  (Minangkabau), pesantren (Jawa), dan lain-lain, daripada membicarakan madrasah.

Dalam beberapa hal, penyebutan istilah madrasah di Indonesia juga seringkali   menimbulkan   konotasi   "ketidakaslian",   dibandingkan   dengan sistem pendidikan Islam yang dikembangkan di masjid, dayah (Aceh), surau
(Minangkabau),  atau  pesantren  (Jawa),  yang  dianggap  asli  Indonesia. Berkembangnya madrasah di Indonesia di awal abad ke-20M, memang merupakan wujud dari upaya pembaharuan pendidikan Islam yang dilakukan
para   cendikiawan   Muslim   Indonesia,   yang   melihat   bahwa   lembaga pendidikan Islam "asli" (tradisional) tersebut dalam beberapa hal tidak lagi sesuai   dengan   tuntutan   dan   perkembangan   zaman.   Di   samping   itu, kedekatan sistem belajar-mengajar ala madrasah dengan sistem belajar-mengajar ala sekolah yang ketika madarash mulai bermunculan, memang sudah banyak dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sehingga banyak  orang  berpandangan  bahwa  madrasah  sebenarnya  merupakan bentuk lain dari sekolah, hanya saja diberi muatan dan corak keIslaman4

Pandangan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa masuknya Islam ke bumi Nusantara ini, baik pada gelombang pertama (abad ke-7 M) maupun gelombang ke-2 (abad ke-13)5 tidak diikuti oleh muncul atau berdirinya madrasah. Lembaga-lembaga pendidikan yang bermunculan seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara, terutama di Jawa, ketika itu ialah pesantren. Dengan alasan itu pula pesantren secara historis seringkali disebut tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).6 Karena itu membicarakan madrasah di Indonesia dalam kaitannya dengan sejarah munculnya lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam seringkali tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan mengenai pesantren sebagai cikalbakalnya. Dengan kata lain, madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut dari pesantren. Karena itu menjadi penting   untuk   mengamati   proses   historis   sebagai   mata   rantai   yang menghubungkan perkembangan pesantren di masa lalu dengan munculnya madrasah di kemudian hari.

Kehadiran   madrasah   sebagai   lembaga   pendidikan   Islam,   setidaktidaknya karena beberapa alasan: a) sebagai manifestasi pembaruan sistem pendidikan Islam, b) penyempurnaan sistem pesantren, c) keinginan sebagian kalangan santri terhadap model pendidikan barat, dan d) sebagai sintesa sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan barat.7

Sedangkan pendapat lain seperti dikemukakan oleh Maksum, bahwa kelahiran madrasah di Indonesia disebabkan dua faktor8. Dua faktor yang dimaksud   adalah   pertama,   karena   pembaharuan   Islam,   kemunculan madrasah    tidak  bisa  dilepaskan  dari  gerakan  pembaruan  Islam,  yang dimotori  sejumlah  intelektual  Islam  dan  organisasi  keagamaan  Islam. Agaknya kaum intelektual dan aktivis gerakan Islam memandang, bahwa pendidikan   adalah   medan   yang   sangat   strategis   dalam   membentuk pandangan  keislaman  masyarakat.  Bahkan  pendidikan  dapat  dijadikan sebagai instrument pengelan ideology keagamaan, seperti yang dianut para aktivis  organiasasi  keagamaan.  Kedua,  sebagai  respon  terhadap  politik pendidikan Hindia Belanda. Madrasah dalam beberapa hal dapat dikatakan sebagai lembaga persekolahan ala belanda yang diberi muatan keagamaan. Sistem pendidikan yang diperkenalkan pemerintah kolonial, adalah sebagai jawaban terhadap kenyataan sistem pendidikan pribumi yang

Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda